Malam ini
aku membuka kembali screenshot percakapan lama kita via pesan singkat. Sudah
nyaris selama 4 bulan yaa. Jujur, sangat sulit bagiku membeberkan semuanya.
Perasaan takut selalu menghantuiku. Seperti 3 minggu belakangan ini kau semakin
menjauh. Aku takut setelah aku mengungkapkan semuanya kau akan pergi. Seolah
tak pernah mendengar pengakuan dari siapapun, seolah aku hanya hembusan angin
yang singgah menerpa wajahmu dan kemudian hilang. Tidak, aku tak ingin
membiarkan hal itu terjadi.
Lalu
bagaimana aku harus bersikap? semuanya serba salah bagiku, juga bagimu. Apa kau
terganggu akan keberadaanku? Apa sekalipun kau tak menganggapku ada? Aku mohon
jangan pergi begitu saja setelah kau membuat aku merasakan indahnya kesan
bersamamu yang sebelumnya tak pernah aku berniat untuk merasakannya. Itu semua
gara-gara kau.
Apa aku
hanya halte bagimu? Tempatmu menyandarkan bahu sejenak, membuatku tak kesepian,
dan ketika aku telah larut akan nyamannya keberadaanmu, bus pun datang dan kau
beranjak pergi dan tak kembali meski untuk sekedar mengingat bahwa aku pernah
menjadi tempatmu beristirahat walau itu hanya waktu yang singkat namun
percayalah, sesingkat apapun pertemuan, ketika orang itu kau, sangat berarti
untukku.
Aku tinggal
diriku dan lagu yang kudengarkan di earphone. Tiap kali lagu ini kuputar,
wajahmu yang pertama kali aku bayangkan. Akankah waktu bisa membantuku? Yang
aku tahu waktu hanya diam saja. Waktu hanya melihat bagaimana kita
memperjuangkan cinta yang kita inginkan. Akankah kau mencariku? Atau aku yang
harus mengalah untuk mencarimu lebih dulu? Entahlah. Aku hanya bisa berdoa,
berharap, merindukan dalam diam, dan mengungkapkan dalam bisu.
Hanya itu,
dan selebihnya only God knows how he feels.
No comments:
Post a Comment