Pages


Monday, September 14, 2015

I'm Done with It!

Kamu lihat sekarang? Kamu menyukainya? Caramu dengan epic membuangku setelah kau pakai. Seperti baju bekas kau lempar seenaknya di tumpukkan baju kotor. Kau benar-benar pintar mempermainkan kebaikan dan rasa "gak enakan" seseorang. Ikaaa Ikaa, poor you girl, how disasterful of a young lady like my self. Januari hingga September. Lumayan lah, 7 bulan kau bermain-main dengan caturmu dan sekarang giliranmu untuk memainkan game baru yang lebih menyenangkan. Hey boy, aku tak sedih, aku tak frustasi hingga desperate mungkin seperti yang kau harapkan. Aku justru muak. Sangat muak hingga aku ingin muntah tiap kali aku mendengar namamu itu. Seriously, I've been wasting my time and I'll finish with it. I'm done with mmm whatever it was. Yeah, I'm done. Thank you sir! You made my day.

Saturday, April 25, 2015

Only God Knows How He Feels

Malam ini aku membuka kembali screenshot percakapan lama kita via pesan singkat. Sudah nyaris selama 4 bulan yaa. Jujur, sangat sulit bagiku membeberkan semuanya. Perasaan takut selalu menghantuiku. Seperti 3 minggu belakangan ini kau semakin menjauh. Aku takut setelah aku mengungkapkan semuanya kau akan pergi. Seolah tak pernah mendengar pengakuan dari siapapun, seolah aku hanya hembusan angin yang singgah menerpa wajahmu dan kemudian hilang. Tidak, aku tak ingin membiarkan hal itu terjadi.

Lalu bagaimana aku harus bersikap? semuanya serba salah bagiku, juga bagimu. Apa kau terganggu akan keberadaanku? Apa sekalipun kau tak menganggapku ada? Aku mohon jangan pergi begitu saja setelah kau membuat aku merasakan indahnya kesan bersamamu yang sebelumnya tak pernah aku berniat untuk merasakannya. Itu semua gara-gara kau. 

Apa aku hanya halte bagimu? Tempatmu menyandarkan bahu sejenak, membuatku tak kesepian, dan ketika aku telah larut akan nyamannya keberadaanmu, bus pun datang dan kau beranjak pergi dan tak kembali meski untuk sekedar mengingat bahwa aku pernah menjadi tempatmu beristirahat walau itu hanya waktu yang singkat namun percayalah, sesingkat apapun pertemuan, ketika orang itu kau, sangat berarti untukku. 

Aku tinggal diriku dan lagu yang kudengarkan di earphone. Tiap kali lagu ini kuputar, wajahmu yang pertama kali aku bayangkan. Akankah waktu bisa membantuku? Yang aku tahu waktu hanya diam saja. Waktu hanya melihat bagaimana kita memperjuangkan cinta yang kita inginkan. Akankah kau mencariku? Atau aku yang harus mengalah untuk mencarimu lebih dulu? Entahlah. Aku hanya bisa berdoa, berharap, merindukan dalam diam, dan mengungkapkan dalam bisu. 

Hanya itu, dan selebihnya only God knows how he feels.


Friday, April 24, 2015

Kamu lah Alasannya, Pelangiku

Rainbow is you
Alasan, alasan itu emas bagiku. Jika tak ada alasan itu, kamu tak akan menemuiku begitu saja tanpa ada sesuatu yang akan kita bicarakan. Aku suka alasan. Di setiap alasan itu ada, dan kamu akan dekat denganku, berusaha mencari keberadaanku, bertanya apakah aku sibuk hari itu, dan semua itu hanya demi sebuah alasan. Kadang aku bertanya-tanya. Di saat semua alasan itu habis pada akhirnya apakah kamu akan tetap mencari aku? apakah aku hanya kantong ajaibmu saja yang kamu gunakan disaat perlu? Bisakah segala sesuatu yang kita bicarakan lepas dari sebuah alasan awal yang kamu rencanakan?

Ayolah, sekali saja. Jangan biarkan aku berpikir kamu itu orang jahat yang selalu memanfaatkan kedunguan perempuan. Aku tahu betul sifatmu. Walaupun aku bukan sahabat karibmu, aku bukan saudaramu, dan aku bukan orang tuamu. Namun aku orang yang mengagumi setiap detail dari dirimu. Bukan fisik, bukan materi, bukan darimana kamu berasal. Dan untuk yang satu ini, sebuah alasan tak berlaku untukku. 

Tak ada alasan untuk menyukai orang padahal orang itu sepertinya jarang peduli dengan kita, selalu meminta kita melakukan sesuatu untuknya dan tanpa babibuu kita spontan menganggukkan kepala seperti robot yang telah disetting sebelumnya. Walaupun hal yang mereka minta merugikan kita, entah ilham dari mana yang mengubah mindset kita dan senyum mengembang sepanjang hari akhirnya mengalahkan kerugian yang mereka timbulkan. Sebut saja "He makes my day" atau "He paint me a wonderful blue sky" yang akan selalu terlontar padahal yang mereka minta seringkali (sangat) merepotkan kita. Aku yakin kebanyakan perempuan sependapat denganku. Benar kan girls?

Sesungguhnya aku pembohong besar. Aku pintar berakting di depanmu. Kamu ingat hari itu? Aku ingin mengatakan "mau" tapi mulutku akhirnya melontarkan "no". Bagaimana bisa penyesalan menyergapku tiba-tiba sedetik setelah aku mengatakan hal itu. Padahal secara logika, dengan aku menjawab "mau" sama saja aku harus membiarkan diriku repot dan kesusahan. Jadi yaasudahlah ya, lupakan saja. Kamu tidak mungkin mengingat hal sepele seperti itu. 

Hey, bisa aku mengetahui satu hal lagi? Masihkah kamu menyukainya? Gadis itu. Aku tahu kamu belum bisa berpaling darinya. Apakah masih ada sudut kosong untukku? Mungkin tidak. Bagaimana bisa perempuan dengan banyak kekurangan seperti aku kamu puja? Aku tidak merendahkan diri, aku benci merendahkan diriku dan membandingkan diri dengan perempuan lain. Aku hanya kesal, karena hanya komentar negatif yang pernah kamu lontarkan padaku. Selama ini aku hanya berpura-pura kebal. Namun jika suatu hari kesabaranku habis dan aku pun lelah untuk menantikan penyambutan hangatmu, jangan salahkan aku, jangan sesali ketika aku memilih untuk berhenti dari menapaki jalan maya yang tak tentu arah tujuan. 

Bagiku kamu adalah serpihan dari pelangi manis yang mengisi warna-warni hidup gadis polos ini. Walaupun pada akhirnya kamu akan menghilang setelah gerimis, setidaknya kamu pernah membuat langit tersenyum. Bahkan mentari pun bersemi menyambutmu dan awan kelabu enggan untuk menampakkan dirinya. 

Tolong beritahu aku jika gerimis itu akan berhenti, agar aku tak terlanjur nyaman duduk menikmati indahnya 7 unsur warna penghias langit itu. Jika kamu beritahu aku, aku bisa beranjak secepatnya. Aku bisa meninggalkan kesan-kesan indahmu, aku bisa berusaha untuk tak memikirkannya lagi walaupun aku tak bisa melupakannya. Aku akan berusaha untuk itu. Namun jika gerimis itu akan selalu ada, katakan padaku. Aku, gadis polos ini akan menantikan, tersenyum menengadah sepanjang hari dengan payung biru. Aku akan menantikan alasan mengapa aku bertahan selama ini. Ya, hanya kamu pelangiku. Alasanku.