Pages


Monday, April 2, 2012

Like a Cinderella story

Hari ini bagai mimpi, kau menjemputku dengan kereta kencanamu. menggapai tanganku sembari membukakan pintu kereta untukku. Malam itu begitu sempurna, aku mengenakan gaun indah dipadu dengan seuntai kalung liontin pemberianmu. Waktu berjalan sangat lama, seakan bumi lupa untuk berotasi. Kau merasakan hal yang begitu luar biasa hari itu? Aku melihatmu gagah dengan jas yang kau kenakan. Konyol, hal itu tampak seperti cerita Cinderella yang menemukan pangerannya saat itu juga. Namun aku berbeda, aku tak menemukan pangeran pada hari itu, tapi aku menemukannya jauh hari sebelum itu. Aku telah yakin akan keputusan ini. Keputusan hati tak bisa diubah dengan mudah. Kau mengerti maksudku? Kau memahami isi hatiku? Aku harap begitu, karena aku tak mau mengatakan seluruh perasaanku secara rinci kepadamu. Itu karena kau telah mengetahuinya bahkan sebelum aku mengatakan semua itu  padamu. Bodohnya aku selalu percaya padamu dan terlalu menyayangimu. Aku tak tau mengapa, tapi yang pasti aku ingin cerita kita menjadi akhir yang indah dan bahagia layaknya cerita Cinderella.

Saturday, March 31, 2012

Gray

Hujan hanya sementara, kini hanya menyisakan tetesan yang bergulir dari ranting-ranting pohon. Di balkon, aku hanya diam seribu bahasa. Dipikiranku yang ada hanya angan-angan maya yang tak pasti. Masa SMA? orang bilang masa SMA adalah masa yang indah, istimewa dan entah mengapa menurut mereka masa yang paling berharga seumur hidup. Tapi yang kurasakan hanya kehampaan dan kesendirian. Tiap tahunnya aku selalu berharap semoga hari-hariku dipenuhi oleh bunga yang bermekaran dan pelangi yang membentang indah di kehidupanku. Tapi yang ku dapat? hanya semburat warna abu-abu dan langit yang kelabu sepanjang waktu. Masa ini benar-benar menyesakkan. Aku sudah lupa sama sekali kapan terakhir aku memiliki lembaran penuh warna itu, goresan kasih dari orang yang kucintai yang telah lama meninggalkanku. Kurasa ini pembalasan, ya.. Pembalasan atas apa yang dulu terjadi pada hidup orang itu. Aku menyia-nyiakan kesempatanku sendiri. Teruskan ini! Aku tak takut pada warna-warna kelabu ini, aku tak takut pada hembusan debu yang kering menyesakkan ini. Aku telah lama seperti ini, aku telah terbiasa untuk menjadi biasa. Masa SMA, masa yang tersulit bagiku dan takkan berubah.

Friday, March 23, 2012

The Reason is... You

Benarkah itu? Kau menyukaiku juga? Beberapa kali aku mendesaknya agar buka mulut tentang mengapa dia menyukaiku? apa alasnnya? Tapi dia hanya bungkam sambil sesekali tersenyum dan menggelengkan kepalanya padaku.
"Kenapa? Aku hanya perlu tahu tentang hal itu." Rengekku kesal.
"Kau tahu mengapa?" Ujarnya sembari memancarkan senyumnya yang terindah.
"Mengapa?" Aku semakin serius dan memasang wajah yang sangat penasaran.
"Alasannya adalah, dirimu."
"...." Aku tak puas dengan jawaban yang dia berikan padaku. Sungguh sebuah jawaban yang simple bagiku.
Dia menatapku linglung, aku dapat melihat sorot matanya yang cemas akan diriku. Seolah aku bisa menebak perasaannya saat itu, sontak aku tersenyum simpul kepadanya.
"Alasannya diriku?" Aku bertanya hati-hati.
"Mungkin menurutmu bukan alasan yang kau harapkan, namun memang hanya itu. Aku tak memiliki alasan mengapa aku dengan mudahnya jatuh cinta padamu." Ia menatapku lagi, dan dia terlihat menahan tawa ketika melihat ada semburat merah yang terpancar di pipiku.
Aku sangat gugup waktu itu, aku merasakan ada beberapa bulir keringat membasahi punggungku.
"Hey, jangan tegang seperti itu. Aku tak akan memakanmu." Gelak tawa pecah diantara kami.
"Kau tahu? Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku gemetar seperti sekarang ini."
Dia tersenyum, tiba-tiba saja dia mengangkat daguku. Wajahnya mendekat, astaga! ia mengecup keningku dengan lembut. "Kaulah alasanku untuk hidup di dunia yang sulit ini." Katanya sedikit berbisik. Aku tersenyum manis kepadanya, burung-burung yang melihat kami berdua seakan ikut merayakan suasana kebahagian yang penuh cinta. Terimakasih untuk hari ini..