Satu waktu, satu hari dan satu cerita memenuhi ruang kehidupan. Dari kecil, aku diajarkan untuk tidak menentang segala perkataan dari orang yang lebih tua dariku. Semenjak itu aku hanya diam dan menurut. Disuruh begini, disuruh begitu, aku hanya menganggukan kepala.Jika aku salah, aku merasa dibentak, tak berani berargumen karena menurut mereka itu berarti menentang. Semakin aku tumbuh, aku merasa sama saja dengan yang dulu. Selalu menunggu perintah, selalu menganggukkan kepala, selalu berkata iya, tak mampu berargumen.Terkadang hatiku memberontak pada cercaan yang melukaiku setiap saat, namun tiada yang keluar dari mulutku. Hanya udara hampa yang terhembus bersama uap kekesalan yang akan sirna dengan sendirinya, namun tetap mengendap didalam hati. Aku tak pintar mengekspresikan sesuatu melalui kata-kata. Ini yang membuatku menjadi lebih banyak diam. Pendiam adalah jati diriku yang sebenarnya. Mungkin aku akan bertindak lain terhadap beberapa orang. Hanya pada orang-orang yang dekat denganku aku berani menunjukkan emosi-emosi yang benar-benar transparan tanpa harus mempedulikan yang lainnya, tanpa harus merasa takut. Aku akui sulit bagiku untuk dekat dengan orang lain, ya.. sebenarnya aku tak banyak memiliki teman. Mungkin yang paling setia adalah temanku yang kecil, bersampul ungu yang paling kucintai. Catatanku. Semua tentang kehidupanku aku tuangkan semuanya disitu. Jika aku senang aku ceritakan kepadanya, jika aku sedih aku menangis dihadapannya, jika aku marah ia juga ijinkan aku untuk memarahinya. Tiap lembarannya aku isi dengan sebuah kenangan, secercah harapan dan mimpi-mimpiku yang mungkin tak masuk akal. Namun baginya, semua yang kutulis adalah nyata. Ia tak menahanku untuk berbuat apa yang kuinginkan, namun nantinya ialah yang menyadarkanku jika aku telah berbuat kesalahan. Ia juga mengajarkanku untuk tak menyesal, namun terkadang ia memaksaku untuk meratapi segala yang telah berlalu. Menangisi kenangan indah yang telah tertulis disana. Setiap lembaran yang terisi adalah jiwanya. Jiwa yang murni. Catatan itu adalah cerminan hatiku yang tak dapat aku ungkapkan. Catatanku adalah diriku sendiri. Sahabatku.
Friday, December 21, 2012
Jika...
Jika aku mengabaikan dunia hanya
untuk menatap wajahmu walau sedetik, apakah kau akan mau memandangku untuk
waktu yang lama?
Jika aku tak memberimu seluruh
perhatian dan kasihku, apakah kau tetap mempertahankan dirimu untukku?
Jika aku merubah diri untuk tak
percaya lagi pada semua ucap manismu, apakah kau masih mau member rayuan-rayuan
itu untukku?
Jika aku kali ini mengatakan
tidak untukmu, apakah kau akan semudah itu menyerah dan menerimanya begitu
saja?
Jika aku berkata bahwa ini semua
telah berakhir, apakah kau percaya semudah itu pada kata-kataku?
Jika aku berkata ‘aku masih ingin
bersamamu’, apakah kau akan datang dan kembali lagi seperti sedia kala?
Jika kau melihatku bersamanya,
apakah kau selalu berasumsi bahwa dia kekasih baruku?
Jika lamanya waktu tak sanggup
kau jalani sendirian, apakah kau akan mencari yang lebih baik dariku?
Jika aku sendirian saat ini,
apakah rasa yang dulu kau miliki masih tersisa walau sedikit saja untukku?
Jika aku tak mampu melihatmu
dengan gadis itu, apakah kau akan tertawa atas karma dan kejahatan hatiku terdahulu?
Jika hatiku menangis dan
berteriak memanggilmu, apakah kau akan datang layaknya kita yang dahulu?
Jika aku mengakui kejujuran
hatiku padamu, apakah kau masih peduli akan hati seorang pendusta?
Jika hatiku kau rasa berdusta,
apakah kau tak berusaha mengetahui kebenarannya?
Jika kau pikir aku hanya ingin
mempermainkan perasaanmu, tidakkah kau lihat betapa kecewanya aku?
Jika kau berpikir aku orang yang
sangat amat terlalu egois, kali ini apakah hatimu sependapat dengan pikiranmu
itu?
Jika aku menganggap kau yang
selama ini bersalah, apakah kau akan menentang pernyataan egoisku?
Jika selama ini hatiku mengubur
dalam-dalam segala rasa yang sebenarnya, apakah kau akan berusaha menggalinya
lagi?
Jika kekasihmu berada di
sampingmu dan aku berada di depanmu, kearah mana kau akan memilih untuk
melangkahkan kakimu?
Jika jalan satu-satunya adalah
berkorban, siapa yang akan kau lepaskan?
Di kepalaku, hanya jika yang
memenuhi. Jika dan jika. Tanpa aku ketahui jawaban yang sebenarnya atau aku
takut menghadapi kejujuranmu.
Thursday, November 1, 2012
Roses Garden
![]() |
| Our love's still in there |
Dengan membawa sebatang pohon mawar, ia merenung di taman mawarnya. Menyekop tanah sedikit demi sedikit dan menanam sebatang mawar ungu. Ia menggerutu "Kau membuatku bingung hari ini. Kau tahu apa yang aku rasakan? aku merasa senang, terkejut, bahagia dalam satu momen. Seperti warna merah dan biru yang membentuk spektrum warna ungu."
Begitulah, sangat rumit baginya. Ia cukup heran mengapa semua orang mendambakan keremajaan. Padahal mereka tidak bisa menikmati masa taman kanak-kanak, tidak bisa bermain, tidak bisa berekreasi tiap waktu. Ditambah dengan hadirnya sesosok pemuda yang membuatnya semakin merasa aneh. Pemuda itu sangat menarik dimatanya. Benar-benar berbeda dengan yang lain dan sangat manis ketika ia berlutut satu kaki dihadapan gadis itu. "Hey, nona mawar. Kau tahu apa yang membuatku berlutut satu kaki dihadapanmu? Itu kau, kau yang selalu menghantui malamku, menyinari siangku dan mewarnai pagiku dengan bayang senyummu yang manis." Hari itu mereka bersatu, saling melengkapi dengan kekurangan masing-masing. Mawar merah muda, wujud nyata dari awal mula kisah cinta mereka bersemi. Mawar kali ini berbeda, ia ditanam oleh kedua insan yang saling mencintai dan memiliki.
Tak terasa hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun pula berlalu. 5 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin suatu hubungan.
Adanya komitmen mulai mengikat kedua insan dengan perantara tali pernikahan yang begitu suci dan indah. Mareka berdua ditambah dengan anak mereka akhirnya membentuk suatu keluarga yang begitu bahagia, penuh tawa dan haru. Nona mawar itu tiba-tiba mulai melupakan taman kecilnya karena terlalu berkonsentrasi pada kehidupan nyata yang berdampingan dengannya sekarang. Ia terus menerus hidup dengan ketiadaan mawar didekatnya, tanpa melihat indahnya kelopak sang bunga, tanpa menghirup wanginya, tanpa merasakan sejuknya hamparan taman yang selalu ia hampiri dahulu sampai kini hanya tulang yang berselaput kulit keriput yang tersisa dari nona mawar yang telah tua renta bersama dengan suaminya yang hanya meringkuk di atas tempat tidur. Namun, mereka berdua tetap merasakan kebahagiaan yang tak terhingga atas anaknya yang kini meneruskan dan melanjutkan arti kehidupan mereka kelak. Mereka yakin anak yang sangat mereka sayangi akan menjadi anak yang baik seperti layaknya bunga mawar. Harum dan menyegarkan. Wanita itu renta setia merawat suaminya hingga pada waktunya tiba. Memang kehendak Tuhan, wanita itu harus menerima kenyataan. Menerima bahwa sang suami telah berpulang meninggalkannya untuk menghadap kepadaNya. Sedih yang teramat menyelimuti wanita mawar serta anaknya. Begitu usai pemakaman, secara tiba-tiba hati sang wanita merasa rindu. Rindu kepada masa lalunya, sebuah tempat yang sangat ia rindukan. Taman mawar. Dengan tergopoh-gopoh ia serta sang anak membawa sekop dan sebatang mawar hitam untuk mereka tanam di lahan penuh mawar itu. Namun sang wanita terperanjat ketika didapatinya lahan tersebut penuh dengan bunga-bunga mawar dengan berbagai warna hasil dari mawar yang ia tanam dahulu, namun taman itu tampak sangat terawat dan seperti disiram serta dipupuk setiap hari. Ia heran, siapa yang telah berbaik hati merawat lahan kecilnya itu. Tak cukup itu saja. Ia mendapati adanya serumpun mawar putih yang mekar indahnya. Seingatnya, ia sama sekali belum pernah menanam mawar putih di taman kecilnya itu. Awalnya ia hanya acuh tak acuh dan melanjutkan untuk menanam mawar hitam yang gelap, senada dengan langit dan hati wanita itu. Pekat, kelabu, dan hampa.
Di rak buku yang berada di kamar wanita tua itu tak sengaja ia temukan sepucuk surat kecil.
"Untuk istriku tercinta"
Lama sudah kita bersama, sepertinya kau cukup sibuk untuk mengurus kebun kecil itu. Jadi biarkan aku yang mengurusnya karena kebunmu adalah kebunku juga. Maafkan aku jika sampai saat ini kau belum mengetahuinya. Aku juga meminta maaf atas kelancanganku menanam sebatang mawar putih disana. Kau tahu makna mawar putih? Kau dan aku, serta anak kita. Cinta kita akan selalu bersemi. Cinta yang putih, suci dan abadi. Walaupun akan ada diantara kita yang pergi, tak akan ada cinta yang pergi. Apapun yang terjadi cinta kita akan selalu ada di taman itu. Lihatlah mawar - mawar itu, hatimu akan kembali bersemi dan tetap lanjutkan hidup kita masing-masing dengan penuh senyuman layaknya sang mawar
Tetes demi tetes lautan air mata itu meleleh di pipi sang wanita itu. Tangannya yang keriput memeluk sang anak yang ikut merasakan sendunya hari itu. Benar, cinta mereka akan abadi dan suatu saat akan bersatu kembali di lahan kecil yang penuh cinta itu.
"Benar kata ayahmu, cinta kita abadi layaknya mawar putih terakhir darinya"
Subscribe to:
Posts (Atom)


