Pages


Sunday, May 27, 2012

Kenangan itu..


Ketakutan itu mulai menjalar memenuhi ruang jiwaku. Ketakutan itu menjelma menjadi sebuah kenyataan pahit, begitu memuakkan. Telah lama aku menunggu untuk menanti sebuah lilin harapan yang bersinar terang di penghujung rinduku. Namun semua itu tak berlangsung lama semenjak  badai malam itu datang dan memadamkan api yang telah lama menyala. Angin itu menyejukkanku, namun  perlahan tanpa aku sadari, ia menghancurkan segala yang aku miliki. Membuat lilin yang telah lama aku pertahankan padam sia-sia. Ia berhembus pelan mengintari setiap rongga dan relung hati, dan seperti yang aku duga, angin sepoi yang telah berhembus pergi tak akan pernah kembali ke tempat yang pernah ia singgahi sebelumnya. Lilin, hanya ia satu-satunya harapanku. Harapan yang telah ku sia-siakan. Maafkanlah  atas angin yang telah memadamkanmu dan atas diriku yang tak bisa mempertahankan cahayamu, aku yang tak bisa mempertahankan cinta kita. Tinggalah aku di persimpangan tak jelas atas tujuan selanjutnya. Angin dan lilin adalah kenangan bagiku. Kini aku mencoba untuk hanya menyayangi salah satu dari segalanya. Masa lalu itu, aku tak ingin itu kembali menghampiri diriku dan aku tak mau terjebak di lubang yang sama.

Monday, April 2, 2012

Like a Cinderella story

Hari ini bagai mimpi, kau menjemputku dengan kereta kencanamu. menggapai tanganku sembari membukakan pintu kereta untukku. Malam itu begitu sempurna, aku mengenakan gaun indah dipadu dengan seuntai kalung liontin pemberianmu. Waktu berjalan sangat lama, seakan bumi lupa untuk berotasi. Kau merasakan hal yang begitu luar biasa hari itu? Aku melihatmu gagah dengan jas yang kau kenakan. Konyol, hal itu tampak seperti cerita Cinderella yang menemukan pangerannya saat itu juga. Namun aku berbeda, aku tak menemukan pangeran pada hari itu, tapi aku menemukannya jauh hari sebelum itu. Aku telah yakin akan keputusan ini. Keputusan hati tak bisa diubah dengan mudah. Kau mengerti maksudku? Kau memahami isi hatiku? Aku harap begitu, karena aku tak mau mengatakan seluruh perasaanku secara rinci kepadamu. Itu karena kau telah mengetahuinya bahkan sebelum aku mengatakan semua itu  padamu. Bodohnya aku selalu percaya padamu dan terlalu menyayangimu. Aku tak tau mengapa, tapi yang pasti aku ingin cerita kita menjadi akhir yang indah dan bahagia layaknya cerita Cinderella.

Saturday, March 31, 2012

Gray

Hujan hanya sementara, kini hanya menyisakan tetesan yang bergulir dari ranting-ranting pohon. Di balkon, aku hanya diam seribu bahasa. Dipikiranku yang ada hanya angan-angan maya yang tak pasti. Masa SMA? orang bilang masa SMA adalah masa yang indah, istimewa dan entah mengapa menurut mereka masa yang paling berharga seumur hidup. Tapi yang kurasakan hanya kehampaan dan kesendirian. Tiap tahunnya aku selalu berharap semoga hari-hariku dipenuhi oleh bunga yang bermekaran dan pelangi yang membentang indah di kehidupanku. Tapi yang ku dapat? hanya semburat warna abu-abu dan langit yang kelabu sepanjang waktu. Masa ini benar-benar menyesakkan. Aku sudah lupa sama sekali kapan terakhir aku memiliki lembaran penuh warna itu, goresan kasih dari orang yang kucintai yang telah lama meninggalkanku. Kurasa ini pembalasan, ya.. Pembalasan atas apa yang dulu terjadi pada hidup orang itu. Aku menyia-nyiakan kesempatanku sendiri. Teruskan ini! Aku tak takut pada warna-warna kelabu ini, aku tak takut pada hembusan debu yang kering menyesakkan ini. Aku telah lama seperti ini, aku telah terbiasa untuk menjadi biasa. Masa SMA, masa yang tersulit bagiku dan takkan berubah.