Pages


Monday, March 2, 2015

Peter's Angel

Angel, disitukah kau? Kau bahagia sekarang? Ku harap itu terjadi.
Aku hampir tak ingin merajut asa kehidupan ini lagi, aku hampir kehilangan sebagian motivasi yang dulu bekerja sepenuhnya.
Entahlah, aku merasa memaksakan diriku sendiri untuk berubah menjadi orang lain. Seseorang yang berusaha tak mengenal apa itu cinta. Karena semua hal yang berkaitan dengannya serasa menyakitkan. Kau tahu apa yang aku bicarakan Angel, jadi tetaplah disana. Aku tahu seberapa banyak pun aku menyercamu, memintamu kembali, menangis berlutut ditengah guyuran hujan sekalipun, satu hal yang sangat aku ketahui. Kau tak akan kembali.
Kau mendengar ketika aku bersenandung ‘aku merindukanmu’ setiap malam tiba? Kau mendengar doa-doa yang aku titipkan kepada Tuhan? Apakah Dia menyampaikannya padamu? Kau melihat dibawah sini? Aku tersenyum kembali, aku tak terlihat lemah bukan? Tentu saja, aku sangat jauh lebih maskulin sekarang. Kau pun tahu alasannya. Seperti yang kau lihat, aku sedang berusaha tak membuatmu khawatir denganku. Bersyukur aku terlahir sebagai laki-laki. Aku bisa menyelesaikan masalahku tidak dengan cara menangis. Karena aku tahu, kau tak akan suka jika aku selalu menangis dikala aku teringat padamu Angel.
Hari ini aku bertemu dengan seorang teman yang begitu baik dan peduli padaku. Aku menceritakan tentangmu padanya, tentang bagaimana dulu aku selalu memikirkanmu, memendam perasaanku sendiri dengan tak mengungkapkannya padamu hingga menjadi sebuah penyesalan, temanku itu bisa sedikit membuatku terlupa akanmu walau untuk sejenak. Kau tak marah kan jika aku berteman dengan gadis itu? Dia sangat bersimpati padaku hingga terkadang aku sempat memikirkan bahwa dia menyukaiku. Pikiran yang bodoh kan? Bagaimana bisa dia menyukai aku sementara dia sudah berada disamping orang lain. Mungkin jenis simpati yang dia punya itu tak lebih dari seorang sahabat bukan?

***

Peter,peter dan peter. Nama itu selalu memenuhi isi pikiranku. Entah ini jenis perasaan macam apa yang merasuki benakku namun aku tak merasa se-berdebar ini ketika aku bersama kekasihku. Bagiku Peter hanyalah sahabat. Cukup Mia, dia hanya sahabat tak lebih. Dia tak mungkin menyukaimu, tak mungkin. Dia miliknya Angel. Dia tak mungkin melupakan Angel begitu saja. Silahkan kutuk aku dan cerca aku jika aku mampu menyukai pria lain selain kekasihku sendiri. Bagaimana aku bisa menghadapi perasaan semacam ini? Aku pun tak mengharapkan hatiku bercabang seperti ini, dan aku tahu benar ini akan membawa bencana nantinya. Tidak,tidak tidak, aku pasti salah. Aku tak menyukai Peter. Peter selalu terbayang akan Angel, gadis beberapa tahun lalu yang mengisi hatinya dengan cinta namun cinta itu selalu terkubur dalam sedalam-dalamnya hingga hal buruk menimpa gadis cantik itu. Jika aku berada di posisi Peter, mungkin aku tak dapat bertahan hingga hari ini. Aku bersyukur Peter masih memiliki hasrat untuk mengisi kembali hari-harinya dengan senyum-senyum itu. Senyum yang membuatku ikut gembira ketika melihatnya. Peter, bolehkah aku sekedar menyukai senyum itu? Karena aku tak akan berharap lebih setelah ini.